Sabtu, 22 Februari 2014

PERADABAN ISLAM



A.     PERADABAN ISLAM
1.      Sistem birokrasi keagamaan
Penyebaran islam di Indonesia pertama-tama dilakukan oleh para pedagang. Pertumbuhan komunitas islam bermula di berbagai pelabuhan penting di Sumatera, Jawa, dan pulau lainnya. Ibu kota kerajaan selain merupakan pusat politik dan perdagangan, juga merupakan tempat berkumpul para ulama dan mubaligh islam. Raja-raja Aceh mengangkat para ulama menjadi penasihat dan pejabat di bidang keagamaan.
Keberadaan ulama sebagai penasihat raja, terutama dalam bidang keagamaan juga terdapat di kerajaan-kerajaan islam lainnya. Di Ternate sultan dibantu oleh sebuah badan penasihat atau lembaga adat. Pada umumnya, badan ini beranggotakan sekelompok ulama, yang selain menjadi penasihat badan peradilan, juga memberi nasihat kepada raja apabila ia melanggar peraturan.
Disamping sebagai penasihat raja, para ulama juga duduk dalam jabatan-jabatan keagamaan yang memiliki tingkat dan istilah berbeda-beda antara satu daerah dengan daerah lainnya, pada umumnya disebut qadhi. Meskipun dengan istilah berbeda, tetapi penerapan hukum islam di satu kerajaan lebih jelas dibandingkan dengan kerajaan lain. Kedudukan jabatan ulama yang terkuat diantaranya adalah di Aceh dan  Banten.
Birokrasi keagamaan juga berlangsung di beberapa kerajaan islam seperti di Kesultanan Demak di Jawa. Semasa menjadi raja Sultan Fatah diangkat oleh para walisongo sebagai raja Demak dengan gelar Senopati Jimbun Ngabdurrahman Panembahan Palembang Sayyidin Panatagama. Demikian pula yang berlaku di Kerajaan Mataram Islam, Sultan Agung bergelar Sultan Agung Hanyakrakusuma Sayyidin Panata Agama Khalifatullah ing Tanah Jawi. Sultan Agung bahkan memberlakukan kebijakan perpaduan tahun Jawa Saka disesuaikan dengan tahun hijriyah. Hal ini menunjukkan perpaduan akulturasi budaya setempat (Jawa) dengan tradisi hukum islam yang dituangkan dalam sistem birokrasi keagamaan.

2.      Peran Ulama dan Karya-karyanya
Penyebaran dan pertumbuhan kebudayaan umat islam di Indonesia terutama terletak di pundak para ulama. Paling tidak ada 2 cara yang dilakukan; pertama, membentuk para kader ulama yang akan bertugas sebagai mubaligh ke berbagai daerah yang lebih luas. Cara ini dilakukan di dalam lembaga-lembaga pendidikan islam yang dikenal dengan pesantren di Jawa, dayah di Aceh, dan surau di Minangkabau. Kedua, melalui karya-karya yang tersebar dan dibaca di berbagai tempat yang jauh. Karya-karya tersebut mencerminkan perkembangan pemikiran dan ilmu-ilmu keagamaan di Indonesia pada masa itu.
Pada abad ke-16 dan 17, banyak sekali bermunculan tulisan para cendikiawan Islam di Indonesia. Syed Muhammad Naquib Al-Attas menyatakan, abad-abad itu menyaksikan suatu kesuburan dalam penulisan sastra, filsafat, metafisika, dan teologi rasional yang tidak terdapat tokoh bandingannya dimana-mana di zaman apapun di Asia Tenggara. Akan tetapi, perlu juga diketahui bahwa ketika tradisi pemikiran islam mulai terbentuk di kepulauan Indonesia ini, di pusat dunia islam, bidang pemikiran itu telah mapan. Bahkan, disana dikenal dengan masa kebekuan, masa kemunduran pemikiran dalam bidang agama karena digalakkannya taklid. Dunia pemikiran yang berkembang di Indonesia, bagaimanapun, mempunyai akar pada tradisi yang telah berkembag di pusat dunia islam sebelumnya.[1]
Para tokoh-tokoh ulama pertama di Indonesia adalah Hamzah Fansuri, seorang tokoh sufi terkemuka yang berasal dari Fansur (Pansur), Sumatera Utara. Karyanya yang terkenal berjudul Asarul-Arifin fi Bayan ila Suluk wa At-Tauhid, suatu uraian singkat tentang sifat-sifat dan inti ilmu kalam menurut teologi islam. Pemikiran tasawufnya dipengaruhi oleh faham wahdat Al-Wujud Ibnu ‘Arabi dan juga pemikiran tasawuf Al-Hallaj. Paham yang dikembangkan Hamzah Fansuri ini di Aceh dikenal dengan sebutan wujudiyah atau martabat tujuh.
Syamsuddin As-Sumatrani adalah murid Hamzah Fansuri. Syamsuddin mengarang buku berjudul Mir’atul Mu’minin (Cermin Orang Beriman) pada tahun 1601 M. Buku itu berisi tanya jawab tentang ilmu kalam, dan juga beberapa buku lainnya. Syamsuddin As-Sumatrani adalah pemuka tasawuf yang menganut paham wahdat al-wujud atau wujudiyah. Syamsuddin merupakan tokoh yang berpengaruh dan memiliki posisi strategis di mata sultan. Sebagai seorang ulama, ia juga dikenal sebagai penulis produktif. Karya Syamsuddin diantaranya adalah Jauhar Al-Haqaid, Risalah At-Tubayyin Mulahazat Al-Muwahidin ‘ala Al-Mulhidin fi Dzikrillah, dan lain-lain.
Ulama Aceh lainnya yang banyak menulis buku adalah Nurudin Ar-Raniri. Ia berasal dari India, keturunan Arab Quraisy Hadramaut. Ar-Raniri dikenal sebagai orang yang sangat giat membela ajaran ahlussunah waljamaah. Karyanya yang sudah diketahui dengan pasti berjumlah 29 buah, yang meliputi berbagai cabang ilmu pengetahuan, seperti ilmu fiqh, hadis, akidah, sejarah, tasawuf, dan sekte-sekte agama. Diantara karyanya adalah Ash-Shirath Al-Mustqim berisi uraian tentang hukum, Bustan Ash-Salathin berisi sejarah dan tuntunan bagi para penguasa dan raja, dan Asrar Al-Insan fi Ma’rifati Ar-Ruh wa Ar-Rahman yang merupakan karya dalam ilmu kalam, Tibyan fi Ma’rifat Al-Adyan berisi perdebatannya dengan kaum wujudiyah, dan Al-Lama’ah fi Takfir man Qala bi Khalq Al-Quran yang merupakan bantahan terhadap pendapat Hamzah Fansuri bahwa Al-Quran itu makhluk.
Penulis lainnya yang juga berasal dari kerajaan Aceh adalah Abdurrauf Singkel yang mendalami ilmu pengetahuan islam di Mekah dan Madinah. Ia menghidupkan kembali ajaran tasawuf yang sebelumnya dikembangkan oleh Hamzah Fansuri melalui tarekat Syattariah yang diajarkannya, walaupun dengan ungkapan dan wujud yang berbeda.
Selain melalui karya-karya ulama Aceh tersebut, paham wujudiyah tersebar di Jawa melalui penyebaran tarekat Syattariah murid-murid Abdurrauf Singkel. Diantaranya adalah Syaikh Abdul Muhyi Pamijahan, pengarang kitab Martabat Kang Pitu (Martabat yang Tujuh), seorang wali yang dikeramatkan di daerah Tasikmalaya dan dari daerah ini tarekat Syattariah menyebarkan ke Cirebon yang menjadi pusat kesultanan.
Di Sulawesi, pemikiran tasawuf yang sama juga berkembang, terutama melalui Syaikh Yusuf Al-Makassari (1626-1699M) yang lama belajar di Timur Tengah. Karya-karya Syaikh Yusuf Al-Makassari yang sebagian dalam bidang tasawuf itu diperkirakan berjumlah 20 buah dan sekarang masih dalam bentuk naskah yang belum diterbitkan.
Pada abad ke-19 M, pemikiran tasawuf mulai bergeser ke pemikiran fiqh seperti tergambar dalam karya-karya ulama pada masa itu. Diantara para ulama yang produktif menulis adalah Syaikh Muhammad Arsyad Al-Banjari (1710-1812M) yang menulis kitab Sabibul Muhtadin, sebuah kitab fiqh, dan kitab Perukunan Melayu.
Kiai Haji Ahmad Rifai (1786-1875) dari Kalisalak Batang yang menulis banyak buku, diantaranya Husnul Mathalib, Asnal Maqashid, Jam’ul Masa’il, Abyanul Hawa’ij, dan Ri’yatul Himmah, yang umumnya membahas ushuludin, fiqh, dan tasawuf.
Ulama lainnya yang namanya sangat terkenal sebagai pengarang adalah Syaikh Nawawi Al-Bantani[2] (wafat 1894) ulama dari Banten yang tinggal di Arab hingga wafatnya dan memperoleh gelar sebagai Sayyid Ulama Al-Hijaz (Penghulu Ulama Hijaz) menulis tidak kurang dari 41 buah kitab yang menyebar di berbagai wilayah dunia islam, termasuk di Indonesia, beberapa karyanya antara lain Nihayatuz Zain, Safinatun Naja, Nuruzh Zhalam, Kasyifatus Saja, Sulamul Fudhala, dan karyanya yang terkenal adalah At-Tafsir Al-Munir.
Syaikh Ahmad Khatib Minangkabau (1860-1916) yang juga sangat produktif menulis, salah satu tulisannya yang terkenal adalah Izharul Zaghlil Kadzibin fi Tasyabbuhihim bis Shadiqin yang berisi tantangan terhadap ajaran tarekat.
Di Palembang terdapat ulama terkenal yaitu Syaikh Abdus Shamad Al-Falimbani berasal dari keturunan Arab Yaman. Karya-karya Abdush Shamad cukup banyak khususnya dalam masalah sufistik. Karya Abdush Shamad antara lain Zuhrah Al-Murid fi Bayan Kalimah At-Tauhid, Nashihah Al-Muslimin wa Tadzkirah Al-Mu’minin fi Fadhail Al-Jihad fi Sabilillah, Tuhfah Ar-Raghibin fi Bayan Haqiqah Iman Al-Mu’minina wa Ma Yufsiduh fi Riddah Al-Murtadin, Al-Urwah Al-Wutsqa wa Silsilah uli Tuqa, Rtib Abdus Shamad, Zad Al-Muttaqin fi Tauhid Rabbul ‘Alamin, Hidayah As-Salikin fi Suluk Maslak Al-Muttaqin, As-Sayr As-Salikin ila Rabb Al-Alamin, karyanya yang terakhir ini adalah karya yang sangat terkenal dalam bidang tasawuf.
Di Semarang, terdapat ulama terkenal, Syaikh Shaleh Darat (1820-1903) yang menulis beberapa karya dalam bahasa Arab dan Jawa. Karya-karya Shaleh Darat antara lain: kitab Tafsir Faidhur Rahman, Kitab Majmu’at Asy-Syari’at Al-Kaifiyat lil-Awam, kitab Munjiyat, dan lain-lain.
Ulama lainnya adalah Syaikh Mahfudz At-Tirmasi, seorang ulama yang berasal dari Termas Pacitan. Mahfudz adalah seorang penulis yang sangat produktif, berasal dari pesantren Termas Pacitan. Sedemikian produktifnya sehingga ia menyelesaikan karya dalam bidang ilmu hadis, yaitu Minhaj Zhawi An-Nazhar, sebuah penjelasan yang cukup rinci atas Manzhumat ‘Ilm Al-Atsar karya Abd Ar-Rahman As-Suyuti, dalam waktu 4 bulan 14 hari, kitab ini tebalnya 302 halaman. Beberapa kitab lainnya adalah Muhibah Dzi Al-Fadhl ala Syarh Muqaddimah Bafadhal (fiqh 4 jilid, 2339 halaman), Tanwir Ash-Shadr fi Qira’ah Al-Imam Abi Amr (ilmu qira’at, 8 jilid), dan lain-lain.
Beberapa ulama lain adalah Syaikh Ihsan Al-Jampasi Al-Kadiri, berasal dari Jampes Kediri. Syaikh Ihsan adalah penulis kitab Sirajut Thalibin (Pelita Para Pencari) terdiri dari 2 jilid, syarah atas kitab Minhajul Abidin Imam Al-Ghazali.
1.      Di Jawa Timur terdapat K.H. Hasyim Asy’ari yang dikenal sebagai seorang ulama pendiri pesantren Tebuireng Jombang dan pendiri NU. K.H. Hasyim Asy’ari juga dikenal sebagai seorang ulama penulis buku-buku berbahasa arab. Diantara karyanya yang ditulis dalam bahasa arab adalah Ad-Durarul Muntasyirah fi Mas’alati Tis’a Asyarah, At-Tibyan fi An-Nahy ‘an Muqatha’at Al-Arham, An-Nurul Mubin fi Mahabbati Sayyidil Mursalin, dan lain-lain.
Selain ulama yang telah disebutkan diatas masih banyak ulama lain yang sangat berjasa dalam pengembangan agama islam di Indonesia melalui karya-karyanya antara lain KH. Ahmad Dahlan tokoh dan pendiri Muhammadiyah, Syaikh Sulaiman Ar-Rasulipendiri Tarbiyah Al-Islamiyah, Haji Abdul Karim Amrullah, Haji Abdullah Ahmad, dan lain-lain.

3.      Corak Bangunan Arsitek
Perbedaan latar belakang budaya, arsitektur bangunan-bangunan islam di indonesia berbeda dengan yang terdapat di dunia islam lainnya. Hasil-hasil seni bangunan pada zaman pertumbuhan dan perkembangan islam di Indonesia antara lain masjid kuno Demak, masjid agung ciptarasa kesepuhan di Cirebon, masjid agung Banten, Baiturrahaman di Aceh, masjid ampel di Surabaya dan daerah-daerah lain. Masjid-masjid itu menunjukkan keistimewaan dalam denahnya yang berbentuk persegi empat atau bujur sangkar dengan bagian kaki yang tinggi serta pejal, atapnya bertumpang dua, tiga, lima atau lebih, dikelilingi parit atau kolam air di bagian depan atau sampingnya yang serambi. Bagian-bagian lain seperti mihrab dengan lengkung pola kalamakara, mimbar yang mengingatkan ukiran-ukiran pola teratai, mastaka atau memolo, menunjukkan seni-seni bangunan yang tradisional yang telah dikenal di Indonesia sebelum kedatangan islam.[3]
Ukiran-ukiran pada mimbar, hiasan lengkung pola kalamakara, mihrab, bentuk beberapa mastaka atau memolo menunjukkan hubungan yang erat perlambang meru, kekayon gunungan atau gunung tempat dewa-dewa yang dikenal dalam cerita keagamaan hindu. Beberapa ukiran pada masjid kuno di Mantingan, Sendang Duwur, menunjukan pola yang diambil dari dunia tumbuh-tumbuhan dan hewan yang diberi corak tertentu dan mengingatkan pada pola-pola ukiran yang sudah dikenal pada Candi Prambanan dan beberapa candi lainnya.
Beberapa bangunan arsitektur islam di Indonesia, memiliki ciri khas tersendiri dengan mengadaptasi budaya sebelumnya. Arsitektur semacam ini secara jelas memperlihatkan perpaduan antara budaya hindu dan budaya islam.

4.      Lembaga Pendidikan Islam
Lembaga-lembaga pendidikan islam sudah berkembang dalam beberapa bentuk sejak zaman penjajahan Belanda. Salah satu bentuk pendidikan islam tertua di Indonesia adalah pesantren yang tersebar di berbagai pelosok. Pesantren sebagai lembaga pendidikan islam mempunyai kontribusi yang sangat besar dalam pembentukan budaya masyarakat islam di Indonesia.
Pesantren merupakan lembaga pendidikan islam  tertua di Indonesia. Para walisongo sebagai penyebar agama islam di Jawa mengembangkan pesantren sebagai lembaga kaderisasi tenaga dakwah yang akan meneruskan perjuangan agama islam.
Dengan berkembangnya pemikiran dalam islam di awal abad ke-20, persoalan administrasi dan organisasi pendidikan mulai mendapat perhatian beberapa kalangan atau organisasi. Tujuan belajar adalah untuk memahami, bukan sekedar menghafal, ditekankan, dan pengertian ditumbuhkan. Itulah yang dinamakan madrasah. Pada umumnya madrasah dibagi menjadi dua jenjang, yaitu tingkat dasar yang dinamakan Madrasah Ibtidayah, dan tingkat lanjutan yang dinamakan Madrasah Tsanawiyah.
Setelah Indonesia merdeka, terutama setelah berdirinya Departemen Agama, persoalan pendidikan agama islam mulai mendapat perhatian lebih serius. Badan Pekerja Komite Nasional Pusat dalam bulan Desember 1945 menganjurkan agar pendidikan madrasah diteruskan.  Departemen agama menganjurkan agar pesantren tradisional dikembangkan menjadi sebuah madrasah, disusun secara klasikal, menggunakan kurikulum yang tetap, dan memasukkan mata pelajaran umum disamping agama sehingga murid di madrasah tersebut mendapatkan pendidikan umum yang sama dengan murid di sekolah umum.
Berkenaan dengan perguruan tinggi islam, kaum muslim di Indonesia sejak awal sudah berpikir untuk membangunnya. Universitas Islam Indonesia (UII) adalah perguruan tinggi islam pertama yang memiliki fakultas-fakultas nonagama. Dengan demikian, UII dapat memberi contoh tentang perkembangan universitas islam di Indonesia.
Dengan bantuan dari pemerintah pendudukan Jepang, lembaga ini dibuka pada 8 Juli 1945 di Jakarta. Tidak lama setelah itu, lembaga ini ditutup karena gedung-gedung dikuasai oleh pasukan sekutu, dan dibuka kembali tanggal 10 April 1946 di Yogyakarta. Pada bulan November 1947, lembaga ini diubah menjadi universitas dengan empat fakultas, yaitu Syariah, Hukum, Pendidikan, dan Ekonomi (kemudian ditambahkan Fakultas Teknik). Pada tanggal 22 Januari 1950, sejumlah pemimpin islam mendirikan sebuah universitas islam di Solo, dan 20 Februari 1951 kedua universitas Islam di Yogyakarta dan di Solo disatukan dengan nama Universitas Islam Indonesia (UII) yang sejak saat itu memiliki cabang di dua kota tersebut.
Perguruan tinggi islam yang khusus terdiri dari fakultas-fakultas keagamaan mulai mendapat perhatian kementrian agama pada tahun 1950. Pada tanggal 12 Agustus 1950, Fakultas Agama di UII dipisahkan dan diambil alih oleh pemerintah dan pada tanggal 26 September 1951 resmi dibuka perguruan tinggi baru dengan nama Perguruan Tinggi Agama Islam Negeri (PTAIN) dibawah pengawasan Kementrian Agama.
Pada tahun 1960, didirikan Institut Agama Islam Negeri (IAIN), yang juga berada dibawah pengawasan Kementrian Agama. Pada tahun 1992, terdapat 14 IAIN di seluruh Indonesia dengan fakultas lebih dari seratus. Pada awal tahun 1980-an dibuka program Pascasarjana IAIN. Sekarang beberapa IAIN telah berkembang menjadi Universitas Islam Negeri (UIN) seperti di Jakarta, Bandung, dan Yogyakarta.
Disamping yang dikelola oleh negeri, beberapa perguruan tinggi islam swasta juga telah banyak berdiri. Bahkan perguruan islam swasta juga memiliki fakultas-fakultas umum, disamping fakultas-fakultas agama.


B.     Organisasi Islam dan Pendidikan Islam di Indonesia

Lahirnya beberapa organisasi islam di Indonesia lebih banyak karena didorong oleh mulai tumbuhnya sikap patriotisme dan rasa nasionalisme serta sebagai respons terhadap kepincangan-kepincangan yang ada pada masyarakat di Indonesia pada akhir abad ke 19 pemerintah kolonial Belanda.
Ada banyak cara yang ditempuh oleh pemerintah kolonial waktu itu untuk membendung pergolakan rakyat Indonesia melalui media pendidikan dan tidak banyak membawa hasil, bahkan berakibat sebaliknya makin tumbuh kesadaran tokoh-tokoh organisasi isalm untuk melawan penjajah dan lahirlah perguruan nasional yang dimpin oleh usaha swasta yang waktu itu berkembang pesat sejak awal tahun 1990.

Dan para pemimpim pergerakan nasional dengan kesadaran penuh ingin mengubah keterbelakangan rakyat Indonesia. Maka lahirlah sekolah-sekolah pertikelir atau usaha para perintis kemerdekaan
Sekolah-sekolah itu semula memiliki dua corak, yaitu:
1.      Sesuai dengan haluan politik, seperti
a.        Taman siswa yang mula-mula didirikan di Jogjakarta
b.        Sekolah serikat rakyat, di Semarang, yang berhaluan komunis
c.        Kesatrian Institut, yang didirikan oleh Dr.Douwes Dekker di kota Bandung
d.        Perguruan Rakyat, di Jakarta dan Bandung

2.      Sesuai dengan tuntunan agama
a.         Sekolah-sekolah serikat islam
b.         Sekolah-sekolah muhamadiyah
c.         Sumatera tawalib di Padang panjang
d.         Sekolah-sekolah nadhratul ulama
e.         Sekolah persatuan umat islam
f.          Sekolah al jami’atul wasliyah
g.         Sekolah al-irsyad
h.         Sekolah nasional normal islam
i.           dan masih banyak lagi sekolah lain

Organisasi  yang berdasarkan sosial keagamaan yang  banyak melakukan aktivitas pendidikan islam yaitu:
a.   Al-jami’at Al-khairiyah
Organisasi yang lebih dikenaal dengan nama Jami’at khair ini didrikan di Jakarta tanggal 17 Juli 1905. Anggotanya ialah orang-orang Arab dan tidak menutup kemungkinan untuk setiap muslim menjadi anggota tanpa diskriminasi asal usul. Umumnya anggota dan pemimpinya terdiri dari orang yang berada. Dua bidang yang sangat diperhatikan adalah
1.         pendirian dan pembinaan satu    sekolah tingkat dasar
  2. pengiriman anak-anak muda ke Turki

Sekolah dasar Jami’at khair bukan hanya mempelajari pengetahuan agama saja tetapi juga mempelajari pengetahuan umum.
Untuk memenuhi tenaga guru yang berkualitas Jami’at khair mendatangkan guru dari daerah lain bahkan luar negri. Pada bulan Oktober 1911 tiga orang guru dari negeri Arab bergabung ke Jami’ay khair. Mereka adalah Syeikh Ahmad Surkati dari Sudan dan Syekh Muhamad Taib dari Maroko dan Syekh Muhamad Abdul Hamid dari Mekah
Menyusul kemudian pada Oktober 1913 empat orang guru sahabat-sahabat Surkati dan salah seorang diantaranya adalah saudara kandungnya sendiri yaitu Muhamad Abdul Fadal Ansari, Muhamad Noor, Hasan Hamid Al-antasari dan seorang lagi yang kemudian diperuntukan bagi Jami’ay khair yang didirikan dikota Surabaya, yaitu Ahmad Al-awif.
Disamping membawa pembaharuan dalam sistem pengajaran yang pertama memasukan pengetahuan umum dan bangsa asing kedalam daftar pengajarannya dan mereka juga memperjuangkan persamaan hak sesama muslim dan pemikiran kembal kepada Al-Qur’An dan hadis. Hal ini yang menyebabkan mereka terasing dari kalangan Sayid dari Jami’at khair.
Suatu hal penting yang dicatat adalah kenyataan penting bahwa Jami’at khair yang pertama memulai organisasinya dengan bentuk modern dalam masyarakat islam.

b.    Al-islah Wal irsyad
Syeikh Ahmad Surkati yang sampai di Jakarta dalam bulan Febuari 1992, seorang alim ulama yang terkenal dalam agama islam, beberapa lama kemudian meninggalkan Jami’at khair dan mendirikan gerakan Agama sendiri bernama Al-islah wal irsyad, dengan haluan mengadakan pembaharuan dalam islam.
Pada tahun 1994 berdirilah perkumpulan Al-islah wal irsyad, kemudian terkenal dengan nama Al-irsyad yang terdiri dari golongan Arab bukan golongan Alwi. Tahun 1915 berdirilah sekolah Al irsyad yang pertama di Jakarta.
Pendiri-pendiri Al-irsyad itu kebanyakan pedagang, tetapi guru sebagai tempat meminta fatwabialah Syekh Ahmad Surkati.
Dari tahun 1906 ia mulai mengajar dinegeri suci tersebut dan pada waktu itu ia mulai mengenal tulisan-tulisan abduh. Al-irsyad itu sendiri menjuruskan perhatian pada bidang pendidikan terutama pada masyarakat Arab.  Dan sekolah Al-irsyad di Jakarta lebih banyak jenisnya terdapat sekolah dasar, sekolah guru bagian terkhusus dimana pelajar dapat mengadakan spesialisasi dalam bidang agama pendidikan dan juga bahasa.
Murid al-irsyad pada haluan pertama didirikan dari anak-anak kalangan Arab dan anak-anak Indonesia dari Sumatra dan juga Kalimantan. Organisasinya menggunakan tabligh dan pertemuan-pertemuan sebagai cara untuk menyebarkan pahamnya. Dan masalah agama yang berasal dari gerakan al-irsyad sangat menggemparkan islam, karena bertentangan dengan keyakinan yang ada pada waktu itu. Terutama majalah Az-Zakhirah yang keluar sejak bulan Muharam 1342H dan terbit setiap bulan di Jakarta yang mengandung bahan peledak. Majalah yang dipimpin oleh Syekh Ahmad itu berisi kupasan pertanyaan-pertanyaan dari segala penjuru mengenai usul dan furu agama yang berisi pembongkaran hadis-hadis palsu dha’if yang dipergunakan dalam mempertahankan beberapa hukum ibadat. Dan muamalat yang menurut fikiran Syekh Ahmad Surkati bertentangan dengan Qur’an dan sunah Nabi Muhammad

c.    Persyerikatan ulama
Persyerikatan ulama merupakan perwujudan dari gerakan pembaharuan didaerah Majalengka, jawa barat yang dimulai pada tahun 1911 atas inisiatif Kyai Haji Abdul Halim, lahir pada tahun 1887 di Ciberelang Majalengka.
Kyai Haji memperoleh pelajaran agama pada masa kanak-kanak lalu pada usia 22 tahun ia mulai belajar di berbagai pesantren dan kemudian pergi ke Mekkah untuk menunaikan ibadah haji. Selama tiga tahun ia berada di Mekah ia mengenal tulisan-tulisan abduh dan jamal al-din afgani dan ia meninggal pada tahun1962 dan tetap berpegang pada mahzab safi’i.
Enam bulan berada dimekah KHA Halim mendirikan sebuah organisasi yang diberi nama Qulub yang bergerak dibidang ekonomi dan pendidikan, anggotanya  60 orang umunya terdiri dari pedagang dan petani. Organisasi ini juga bermaksud membantu anggota-anggotanya yang bergerak dibidang perdagangan dan persaingan dengan pedagang-pedagang Cina. Dalam bidang pendidikan KHA Halim mengadakan pelajaran agama seminggu sekali.
Hayatul Qulub tidak berlangsung lama. Persaingan dengan pedagang Cina yang kadang-kadang menyebabkan perkelahian dan dianggap pemerintah sebagai kerusuhan.  Tahun 1915 organisasi tersebut dilarang, tapi kegiatannya terus lanjut walau tidak diberi nama resmi, sedangkan kegiatan pendidikan dilanjutkan oleh organisasi baru yang disebut dengan Majlisul Ilmi.
Pada tahun 1916M dirasakan oleh kalangan masyarakat, terutama para tokohnya untuk mendirikan suatu lembaga pendidikan yang besifat modern. Sekolah dengan jami’yat i’anat al muata’alimin didirikan dengan mendapat sambutan yang baik dari guru. Organisasi tersebut yang kemudian diganti dengan persyerikatan ulama yang diakui secara sah oleh hukum pemerintah pada tahun 1917 dengan bantuan H.O.S Cokroaminoto pemimpin serikat islam yang disebut juga persyerikatan umat islam yang pada tahun1 952 difuksikan dengan organisasi islam lainya al ijtihadiyatul islamiyah menjadi persatuan umat islam
pada tahun 1924 persyerikatan ulama secara resmi meluaskan daerah operasinya keseleruruh Jawa dan Madura, dan pada tahun 1937 keseluruh Indonesia. Persyerikatan ulama ini tetap  merupakan organisasi dari Majelengka. Organisasi ini juga membuka sebuah rumah anak yatim yang diselenggarakan oleh Fatimiyah bagian wanita dari organisasi tersebut, yang diambil dari anak nabi Muhammad SAW yang didirikan pada tahun 1930.
Pada tahun 1932 dalam suatu kongres persyerikatan ulama di Majalengka KHA Halim mengusulkan agar sebuah lembaga yang didirikan bisa melengkapi pelajar-pelajarnya bukan saja dengan berbagai cabang ilmu pengetahuan agama dan ilmu umum.
Pendiri persyerikatn ulama ini juga mengusulkan agar latihan tersebut perlu juga menitikberatkan pada pembentukan watak dan kongres menerima usul KHA Halim. Suatu keluarga kaya dari Ciomas memberikan setumpuk tanahnya di Pasir ayu 10m dari Majalengka.
Lembaga ini dinamakan santri asrama yang dibagi 3 menjadi bagian yaitu:
1.      Tingkat permulaan
2.      Dasar
3.      Lanjutan
persyerikatan ulama sejak mulai berdiri, menyelenggarakan juga tabligh dan mulai sekitar tahun 1930 menerbitkan majalah dan brosur sebagai media penyebar cita-citanya.

d.   Muhammadiyah
Muhammadiyah adalah organisasi islam yang bergerak dibidang pendidikan, dakwah dan kemasyrakatan. Muhamadiyah didirikan dijogjakarta pada tanggal 10 November 1912 bertepatan dengan 8 Zulhijah 1330H  oleh K.H. Ahmad Dahlan.
Tujuan didirikan organisasi muhamadiyah ini adalah untuk membebaskan umat islam dari kebekuan dalam segala bidang kehidupannya, dan praktek-praktek agama yang menyimpang dari kemurnian ajaran islam.
Sebagai organisasi dakwah dan pendidikan, muhamadiyah  mendirikan lembaga pendidikan dari tingkat dasar sampai keperguruan tinggi. pada tahun 1015 K.H. Ahmad Dahlan mulai mendirikan sekolah dasarnya yang pertama. Pada sekolah ini diberikan pengetahuan umum dan agama. Kemudian diikuti dengan berdirinya sekolah-sekolah muhamadiyah diplosok Indonesia.
Pada tahun 1925 organisasi ini telah mempunyai delapan Hollands Inlandse School. Sebuah sekolahan guru di Jogjakarta, 32 sekolah dasar lima tahun, sebuah schakel school, dan 14 buah madrasah, yang seluruhnya 119 orang guru dan 4000 murid. Pada tahun 1992 organisasi ini telah mempublikasikan penerbitan sejumlah 700.000 buah buku dan brosur. Kemuduan pada tahun 1938 telah memiliiki 38 perpustakaan umum dan 1774 sekolah.
e.   Persatuan Islam
Persatuan islam didirikan secara resmi pada tanggal 12 september 1923 di Bandung, oleh sekelompok orang islam yang berminat dalam studi dan aktifitas keagamaan yang dipimpin oleh Zamzam dan Muhamadiyah Yunus.
Persatuan islam menyebarkan pemikirannya dan cita-citanya denngan mengadakan pertemuan umum, tabligh,khotbah,  kelompok studi dan mendirikan sekolah, menyabarkan famlet, majalah dan kitab.
Pada tahun 1927, persatuan islam mempunyai kelompok diskusi yang diikuti oleh anak  muda yan menjalani masa studinya. Kelompok diskusi ini dipimpin oleh Hasan. Dibidang pendidikan, persatuan islam mendirikan sebuah madrasah yang pada awalnya untuk anak-anak dari anggota persatuan islam, tetapi kemudian madrasah ini pun dibuka untuk anak-anak lainnya. Sebuah kegiatan lain yang penting adalah lembaga pendidikan islam yang ditangani oleh M.natsir, lembaga ini berhasil mendirikan  Taman Kanak-kanak, HIS, dan sekolah guru.

f.    Nahdlatul ulama
Diantaranya organisasi islam lain yang mementingkan masalah penddikan dan pengajaran adalahnahdlatul ulama. Nahdlatul ulama didirikan pada tahhun1929 di  surabaya sebagai perluasan dari komite hijaz yang dibangu untuk dua maksud yaitu:
1.     Untuk mengimbangi komite khilafat yang secara berangsur-angsur jatuh ketangan golongan pembharuan
2.    Untuk berseru kepada ibnu sa’ud.

Tahun 1927 baru tujuan organisasi dirmuskan. Organisasi ini bertujuan memperkuat iakatan salah satu dari empat mazab serta untuk melakukan kegiatan yang bermanfaat untuk anggotanya. Kegiatan ini meliputi usaha antar para aulama yang masih berpegang teguh pada mazab.
Dengan demikian tampak bahwa NU bermaksuf mempertahankan praktek keagamaan yang sudah menstradisi. NU memberikan perhatian yang besar pada pendidikan, khusnya pendidikan tradisional. NU mendirikan madrasah dengan model barat, sampai akhir tahun1956 komisi perguruan  NU mengeluarkan reglement tentang susunan madrasah-madrasah NU yang terdiri dari:
1.      Madrasah awaliyah
2.      madrasah ibtidaiyah
3.      madrasah tsanawiyah
4.      madrasah mu’alimin wusta
5.      madrasah mu’alimin ulya.

NU mendapat kesulitan untuk memprakarasai pembharuan pendidikan dilingkungan pesantren pedesaan. Usaha tersebut pernah dirintis oleh KH Muhamad ILYas. Mohhamad ilyas juga memperkenalkan sistem pengajaran bahasa belanda di HIS pada pesantren. Pembharuan pendidikana dipesantren ini mendapat reaksi hebat dari orang tua wali. Mereka memindahkan anak-anakny kepesantren lain karena Tebuireng sudah terlalu modern


[1] Dr. Badri Yatim, M.A., Sejarah Peradaban Islam, hlm.299.
[2] Lebih lanjut mengenai Syaikh Nawawi Al-Bantani dapat dibaca dalam Samsul Munir Amin, Sayid Ulama Hijaz, Biografi Syaikh Nawawi Al-Bantani, Yogyakarta: Pustaka Pesantren, 2008
[3] Uka Tjandrasasmita (Ed), Sejarah Nasional Indonesia III, Jakarta: Balai Pustaka, 1984, hlm.193.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar