A. PERADABAN
ISLAM
1. Sistem
birokrasi keagamaan
Penyebaran
islam di Indonesia pertama-tama dilakukan oleh para pedagang. Pertumbuhan
komunitas islam bermula di berbagai pelabuhan penting di Sumatera, Jawa, dan
pulau lainnya. Ibu kota kerajaan selain merupakan pusat politik dan perdagangan,
juga merupakan tempat berkumpul para ulama dan mubaligh islam. Raja-raja Aceh
mengangkat para ulama menjadi penasihat dan pejabat di bidang keagamaan.
Keberadaan
ulama sebagai penasihat raja, terutama dalam bidang keagamaan juga terdapat di
kerajaan-kerajaan islam lainnya. Di Ternate sultan dibantu oleh sebuah badan
penasihat atau lembaga adat. Pada umumnya, badan ini beranggotakan sekelompok
ulama, yang selain menjadi penasihat badan peradilan, juga memberi nasihat
kepada raja apabila ia melanggar peraturan.
Disamping
sebagai penasihat raja, para ulama juga duduk dalam jabatan-jabatan keagamaan
yang memiliki tingkat dan istilah berbeda-beda antara satu daerah dengan daerah
lainnya, pada umumnya disebut qadhi. Meskipun dengan istilah berbeda, tetapi
penerapan hukum islam di satu kerajaan lebih jelas dibandingkan dengan kerajaan
lain. Kedudukan jabatan ulama yang terkuat diantaranya adalah di Aceh dan Banten.
Birokrasi
keagamaan juga berlangsung di beberapa kerajaan islam seperti di Kesultanan Demak
di Jawa. Semasa menjadi raja Sultan Fatah diangkat oleh para walisongo sebagai
raja Demak dengan gelar Senopati Jimbun
Ngabdurrahman Panembahan Palembang Sayyidin Panatagama. Demikian pula yang
berlaku di Kerajaan Mataram Islam, Sultan Agung bergelar Sultan Agung Hanyakrakusuma Sayyidin Panata Agama Khalifatullah ing
Tanah Jawi. Sultan Agung bahkan memberlakukan kebijakan perpaduan tahun
Jawa Saka disesuaikan dengan tahun hijriyah. Hal ini menunjukkan perpaduan
akulturasi budaya setempat (Jawa) dengan tradisi hukum islam yang dituangkan
dalam sistem birokrasi keagamaan.
2. Peran
Ulama dan Karya-karyanya
Penyebaran
dan pertumbuhan kebudayaan umat islam di Indonesia terutama terletak di pundak
para ulama. Paling tidak ada 2 cara yang dilakukan; pertama, membentuk para
kader ulama yang akan bertugas sebagai mubaligh ke berbagai daerah yang lebih
luas. Cara ini dilakukan di dalam lembaga-lembaga pendidikan islam yang dikenal
dengan pesantren di Jawa, dayah di Aceh, dan surau di Minangkabau. Kedua,
melalui karya-karya yang tersebar dan dibaca di berbagai tempat yang jauh.
Karya-karya tersebut mencerminkan perkembangan pemikiran dan ilmu-ilmu
keagamaan di Indonesia pada masa itu.
Pada
abad ke-16 dan 17, banyak sekali bermunculan tulisan para cendikiawan Islam di
Indonesia. Syed Muhammad Naquib Al-Attas menyatakan, abad-abad itu menyaksikan
suatu kesuburan dalam penulisan sastra, filsafat, metafisika, dan teologi
rasional yang tidak terdapat tokoh bandingannya dimana-mana di zaman apapun di
Asia Tenggara. Akan tetapi, perlu
juga diketahui bahwa ketika tradisi pemikiran islam mulai terbentuk di
kepulauan Indonesia ini, di pusat dunia islam, bidang pemikiran itu telah
mapan. Bahkan, disana dikenal dengan masa kebekuan, masa kemunduran pemikiran
dalam bidang agama karena digalakkannya taklid. Dunia pemikiran yang berkembang
di Indonesia, bagaimanapun, mempunyai akar pada tradisi yang telah berkembag di
pusat dunia islam sebelumnya.[1]
Para
tokoh-tokoh ulama pertama di Indonesia adalah Hamzah Fansuri, seorang tokoh
sufi terkemuka yang berasal dari Fansur (Pansur), Sumatera Utara. Karyanya yang
terkenal berjudul Asarul-Arifin fi Bayan
ila Suluk wa At-Tauhid, suatu uraian singkat tentang sifat-sifat dan inti
ilmu kalam menurut teologi islam. Pemikiran tasawufnya dipengaruhi oleh faham wahdat Al-Wujud Ibnu ‘Arabi dan juga
pemikiran tasawuf Al-Hallaj. Paham yang dikembangkan Hamzah Fansuri ini di Aceh
dikenal dengan sebutan wujudiyah atau
martabat tujuh.
Syamsuddin
As-Sumatrani adalah murid Hamzah Fansuri. Syamsuddin mengarang buku berjudul Mir’atul Mu’minin (Cermin Orang Beriman)
pada tahun 1601 M. Buku itu berisi tanya jawab tentang ilmu kalam, dan juga
beberapa buku lainnya. Syamsuddin As-Sumatrani adalah pemuka tasawuf yang
menganut paham wahdat al-wujud atau wujudiyah. Syamsuddin merupakan tokoh
yang berpengaruh dan memiliki posisi strategis di mata sultan. Sebagai seorang
ulama, ia juga dikenal sebagai penulis produktif. Karya Syamsuddin diantaranya
adalah Jauhar Al-Haqaid, Risalah
At-Tubayyin Mulahazat Al-Muwahidin ‘ala Al-Mulhidin fi Dzikrillah, dan
lain-lain.
Ulama
Aceh lainnya yang banyak menulis buku adalah Nurudin Ar-Raniri. Ia berasal dari
India, keturunan Arab Quraisy Hadramaut. Ar-Raniri dikenal sebagai orang yang
sangat giat membela ajaran ahlussunah
waljamaah. Karyanya yang sudah diketahui dengan pasti berjumlah 29 buah,
yang meliputi berbagai cabang ilmu pengetahuan, seperti ilmu fiqh, hadis,
akidah, sejarah, tasawuf, dan sekte-sekte agama. Diantara karyanya adalah Ash-Shirath Al-Mustqim berisi uraian
tentang hukum, Bustan Ash-Salathin
berisi sejarah dan tuntunan bagi para penguasa dan raja, dan Asrar Al-Insan fi Ma’rifati Ar-Ruh wa
Ar-Rahman yang merupakan karya dalam ilmu kalam, Tibyan fi Ma’rifat Al-Adyan berisi perdebatannya dengan kaum wujudiyah, dan Al-Lama’ah fi Takfir man
Qala bi Khalq Al-Quran yang merupakan bantahan terhadap pendapat Hamzah Fansuri
bahwa Al-Quran itu makhluk.
Penulis
lainnya yang juga berasal dari kerajaan Aceh adalah Abdurrauf Singkel yang
mendalami ilmu pengetahuan islam di Mekah dan Madinah. Ia menghidupkan kembali
ajaran tasawuf yang sebelumnya dikembangkan oleh Hamzah Fansuri melalui tarekat
Syattariah yang diajarkannya, walaupun dengan ungkapan dan wujud yang berbeda.
Selain
melalui karya-karya ulama Aceh tersebut, paham wujudiyah tersebar di Jawa
melalui penyebaran tarekat Syattariah murid-murid Abdurrauf Singkel.
Diantaranya adalah Syaikh Abdul Muhyi Pamijahan, pengarang kitab Martabat Kang Pitu (Martabat yang
Tujuh), seorang wali yang dikeramatkan di daerah Tasikmalaya dan dari daerah
ini tarekat Syattariah menyebarkan ke Cirebon yang menjadi pusat kesultanan.
Di
Sulawesi, pemikiran tasawuf yang sama juga berkembang, terutama melalui Syaikh
Yusuf Al-Makassari (1626-1699M) yang lama belajar di Timur Tengah. Karya-karya
Syaikh Yusuf Al-Makassari yang sebagian dalam bidang tasawuf itu diperkirakan
berjumlah 20 buah dan sekarang masih dalam bentuk naskah yang belum
diterbitkan.
Pada
abad ke-19 M, pemikiran tasawuf mulai bergeser ke pemikiran fiqh seperti
tergambar dalam karya-karya ulama pada masa itu. Diantara para ulama yang
produktif menulis adalah Syaikh Muhammad Arsyad Al-Banjari (1710-1812M) yang
menulis kitab Sabibul Muhtadin, sebuah
kitab fiqh, dan kitab Perukunan Melayu.
Kiai
Haji Ahmad Rifai (1786-1875) dari Kalisalak Batang yang menulis banyak buku,
diantaranya Husnul Mathalib, Asnal Maqashid, Jam’ul Masa’il, Abyanul Hawa’ij,
dan Ri’yatul Himmah, yang umumnya membahas ushuludin, fiqh, dan tasawuf.
Ulama
lainnya yang namanya sangat terkenal sebagai pengarang adalah Syaikh Nawawi
Al-Bantani[2]
(wafat 1894) ulama dari Banten yang tinggal di Arab hingga wafatnya dan
memperoleh gelar sebagai Sayyid Ulama Al-Hijaz (Penghulu Ulama Hijaz) menulis
tidak kurang dari 41 buah kitab yang menyebar di berbagai wilayah dunia islam,
termasuk di Indonesia, beberapa karyanya antara lain Nihayatuz Zain, Safinatun Naja, Nuruzh Zhalam, Kasyifatus Saja, Sulamul
Fudhala, dan karyanya yang terkenal adalah At-Tafsir Al-Munir.
Syaikh
Ahmad Khatib Minangkabau (1860-1916) yang juga sangat produktif menulis, salah
satu tulisannya yang terkenal adalah Izharul
Zaghlil Kadzibin fi Tasyabbuhihim bis Shadiqin yang berisi tantangan
terhadap ajaran tarekat.
Di
Palembang terdapat ulama terkenal yaitu Syaikh Abdus Shamad Al-Falimbani
berasal dari keturunan Arab Yaman. Karya-karya Abdush Shamad cukup banyak khususnya
dalam masalah sufistik. Karya Abdush Shamad antara lain Zuhrah Al-Murid fi Bayan Kalimah At-Tauhid, Nashihah Al-Muslimin wa
Tadzkirah Al-Mu’minin fi Fadhail Al-Jihad fi Sabilillah, Tuhfah Ar-Raghibin fi
Bayan Haqiqah Iman Al-Mu’minina wa Ma Yufsiduh fi Riddah Al-Murtadin, Al-Urwah
Al-Wutsqa wa Silsilah uli Tuqa, Rtib Abdus Shamad, Zad Al-Muttaqin fi Tauhid
Rabbul ‘Alamin, Hidayah As-Salikin fi Suluk Maslak Al-Muttaqin, As-Sayr
As-Salikin ila Rabb Al-Alamin, karyanya yang terakhir ini adalah karya yang
sangat terkenal dalam bidang tasawuf.
Di
Semarang, terdapat ulama terkenal, Syaikh Shaleh Darat (1820-1903) yang menulis
beberapa karya dalam bahasa Arab dan Jawa. Karya-karya Shaleh Darat antara
lain: kitab Tafsir Faidhur Rahman, Kitab
Majmu’at Asy-Syari’at Al-Kaifiyat lil-Awam, kitab Munjiyat, dan lain-lain.
Ulama
lainnya adalah Syaikh Mahfudz At-Tirmasi, seorang ulama yang berasal dari
Termas Pacitan. Mahfudz adalah seorang penulis yang sangat produktif, berasal
dari pesantren Termas Pacitan. Sedemikian produktifnya sehingga ia
menyelesaikan karya dalam bidang ilmu hadis, yaitu Minhaj Zhawi An-Nazhar, sebuah penjelasan yang cukup rinci atas Manzhumat ‘Ilm Al-Atsar karya Abd
Ar-Rahman As-Suyuti, dalam waktu 4 bulan 14 hari, kitab ini tebalnya 302 halaman.
Beberapa kitab lainnya adalah Muhibah Dzi
Al-Fadhl ala Syarh Muqaddimah Bafadhal (fiqh 4 jilid, 2339 halaman), Tanwir Ash-Shadr fi Qira’ah Al-Imam Abi Amr (ilmu
qira’at, 8 jilid), dan lain-lain.
Beberapa
ulama lain adalah Syaikh Ihsan Al-Jampasi Al-Kadiri, berasal dari Jampes
Kediri. Syaikh Ihsan adalah penulis kitab Sirajut
Thalibin (Pelita Para Pencari) terdiri dari 2 jilid, syarah atas kitab Minhajul Abidin Imam Al-Ghazali.
1.
Di
Jawa Timur terdapat K.H. Hasyim Asy’ari yang dikenal sebagai seorang ulama
pendiri pesantren Tebuireng Jombang dan pendiri NU. K.H. Hasyim Asy’ari juga
dikenal sebagai seorang ulama penulis buku-buku berbahasa arab. Diantara
karyanya yang ditulis dalam bahasa arab adalah Ad-Durarul Muntasyirah fi Mas’alati Tis’a Asyarah, At-Tibyan fi An-Nahy
‘an Muqatha’at Al-Arham, An-Nurul Mubin fi Mahabbati Sayyidil Mursalin, dan
lain-lain.
Selain
ulama yang telah disebutkan diatas masih banyak ulama lain yang sangat berjasa
dalam pengembangan agama islam di Indonesia melalui karya-karyanya antara lain
KH. Ahmad Dahlan tokoh dan pendiri Muhammadiyah, Syaikh Sulaiman
Ar-Rasulipendiri Tarbiyah Al-Islamiyah, Haji Abdul Karim Amrullah, Haji
Abdullah Ahmad, dan lain-lain.
3. Corak
Bangunan Arsitek
Perbedaan
latar belakang budaya, arsitektur bangunan-bangunan islam di indonesia berbeda
dengan yang terdapat di dunia islam lainnya. Hasil-hasil seni
bangunan pada zaman pertumbuhan dan perkembangan islam di Indonesia antara lain
masjid kuno Demak, masjid agung ciptarasa kesepuhan di Cirebon, masjid agung
Banten, Baiturrahaman di Aceh, masjid ampel di Surabaya dan daerah-daerah lain.
Masjid-masjid itu menunjukkan keistimewaan dalam denahnya yang berbentuk
persegi empat atau bujur sangkar dengan bagian kaki yang tinggi serta pejal,
atapnya bertumpang dua, tiga, lima atau lebih, dikelilingi parit atau kolam air
di bagian depan atau sampingnya yang serambi. Bagian-bagian lain seperti mihrab
dengan lengkung pola kalamakara,
mimbar yang mengingatkan ukiran-ukiran pola teratai, mastaka atau memolo,
menunjukkan seni-seni bangunan yang tradisional yang telah dikenal di Indonesia
sebelum kedatangan islam.[3]
Ukiran-ukiran
pada mimbar, hiasan lengkung pola kalamakara, mihrab, bentuk beberapa mastaka
atau memolo menunjukkan hubungan yang erat perlambang meru, kekayon gunungan
atau gunung tempat dewa-dewa yang dikenal dalam cerita keagamaan hindu.
Beberapa ukiran pada masjid kuno di Mantingan, Sendang Duwur, menunjukan pola
yang diambil dari dunia tumbuh-tumbuhan dan hewan yang diberi corak tertentu
dan mengingatkan pada pola-pola ukiran yang sudah dikenal pada Candi Prambanan
dan beberapa candi lainnya.
Beberapa
bangunan arsitektur islam di Indonesia, memiliki ciri khas tersendiri dengan
mengadaptasi budaya sebelumnya. Arsitektur semacam ini secara jelas memperlihatkan
perpaduan antara budaya hindu dan budaya islam.
4. Lembaga
Pendidikan Islam
Lembaga-lembaga
pendidikan islam sudah berkembang dalam beberapa bentuk sejak zaman penjajahan
Belanda. Salah satu bentuk pendidikan islam tertua di Indonesia adalah pesantren
yang tersebar di berbagai pelosok. Pesantren sebagai lembaga pendidikan islam
mempunyai kontribusi yang sangat besar dalam pembentukan budaya masyarakat
islam di Indonesia.
Pesantren
merupakan lembaga pendidikan islam
tertua di Indonesia. Para walisongo sebagai penyebar agama islam di Jawa
mengembangkan pesantren sebagai lembaga kaderisasi tenaga dakwah yang akan
meneruskan perjuangan agama islam.
Dengan
berkembangnya pemikiran dalam islam di awal abad ke-20, persoalan administrasi
dan organisasi pendidikan mulai mendapat perhatian beberapa kalangan atau
organisasi. Tujuan belajar adalah untuk memahami, bukan sekedar menghafal, ditekankan,
dan pengertian ditumbuhkan. Itulah yang dinamakan madrasah. Pada umumnya
madrasah dibagi menjadi dua jenjang, yaitu tingkat dasar yang dinamakan
Madrasah Ibtidayah, dan tingkat lanjutan yang dinamakan Madrasah Tsanawiyah.
Setelah
Indonesia merdeka, terutama setelah berdirinya Departemen Agama, persoalan
pendidikan agama islam mulai mendapat perhatian lebih serius. Badan Pekerja
Komite Nasional Pusat dalam bulan Desember 1945 menganjurkan agar pendidikan
madrasah diteruskan. Departemen agama
menganjurkan agar pesantren tradisional dikembangkan menjadi sebuah madrasah,
disusun secara klasikal, menggunakan kurikulum yang tetap, dan memasukkan mata
pelajaran umum disamping agama sehingga murid di madrasah tersebut mendapatkan
pendidikan umum yang sama dengan murid di sekolah umum.
Berkenaan
dengan perguruan tinggi islam, kaum muslim di Indonesia sejak awal sudah berpikir
untuk membangunnya. Universitas Islam Indonesia (UII) adalah perguruan tinggi
islam pertama yang memiliki fakultas-fakultas nonagama. Dengan demikian, UII
dapat memberi contoh tentang perkembangan universitas islam di Indonesia.
Dengan
bantuan dari pemerintah pendudukan Jepang, lembaga ini dibuka pada 8 Juli 1945
di Jakarta. Tidak lama setelah itu, lembaga ini ditutup karena gedung-gedung
dikuasai oleh pasukan sekutu, dan dibuka kembali tanggal 10 April 1946 di
Yogyakarta. Pada bulan November 1947, lembaga ini diubah menjadi universitas
dengan empat fakultas, yaitu Syariah, Hukum, Pendidikan, dan Ekonomi (kemudian
ditambahkan Fakultas Teknik). Pada tanggal 22 Januari 1950, sejumlah pemimpin
islam mendirikan sebuah universitas islam di Solo, dan 20 Februari 1951 kedua
universitas Islam di Yogyakarta dan di Solo disatukan dengan nama Universitas
Islam Indonesia (UII) yang sejak saat itu memiliki cabang di dua kota tersebut.
Perguruan
tinggi islam yang khusus terdiri dari fakultas-fakultas keagamaan mulai
mendapat perhatian kementrian agama pada tahun 1950. Pada tanggal 12 Agustus
1950, Fakultas Agama di UII dipisahkan dan diambil alih oleh pemerintah dan
pada tanggal 26 September 1951 resmi dibuka perguruan tinggi baru dengan nama
Perguruan Tinggi Agama Islam Negeri (PTAIN) dibawah pengawasan Kementrian
Agama.
Pada
tahun 1960, didirikan Institut Agama Islam Negeri (IAIN), yang juga berada
dibawah pengawasan Kementrian Agama. Pada tahun 1992, terdapat 14 IAIN di
seluruh Indonesia dengan fakultas lebih dari seratus. Pada awal tahun 1980-an
dibuka program Pascasarjana IAIN. Sekarang beberapa IAIN telah berkembang
menjadi Universitas Islam Negeri (UIN) seperti di Jakarta, Bandung, dan
Yogyakarta.
Disamping
yang dikelola oleh negeri, beberapa perguruan tinggi islam swasta juga telah
banyak berdiri. Bahkan perguruan islam swasta juga memiliki fakultas-fakultas
umum, disamping fakultas-fakultas agama.
B. Organisasi Islam dan
Pendidikan Islam di Indonesia
Lahirnya beberapa organisasi islam di Indonesia lebih banyak
karena didorong oleh mulai tumbuhnya sikap patriotisme dan rasa nasionalisme
serta sebagai respons terhadap kepincangan-kepincangan yang ada pada masyarakat
di Indonesia pada akhir abad ke 19 pemerintah kolonial Belanda.
Ada banyak cara yang ditempuh oleh pemerintah kolonial
waktu itu untuk membendung pergolakan rakyat Indonesia melalui media pendidikan
dan tidak banyak membawa hasil, bahkan berakibat sebaliknya makin tumbuh
kesadaran tokoh-tokoh organisasi isalm untuk melawan penjajah dan lahirlah
perguruan nasional yang dimpin oleh usaha swasta yang waktu itu berkembang
pesat sejak awal tahun 1990.
Dan para pemimpim pergerakan nasional dengan kesadaran
penuh ingin mengubah keterbelakangan rakyat Indonesia. Maka lahirlah
sekolah-sekolah pertikelir atau usaha para perintis kemerdekaan
Sekolah-sekolah itu
semula memiliki dua corak, yaitu:
1.
Sesuai dengan haluan politik, seperti
a.
Taman siswa yang mula-mula didirikan di Jogjakarta
b.
Sekolah serikat rakyat, di Semarang, yang berhaluan
komunis
c.
Kesatrian Institut, yang didirikan oleh Dr.Douwes
Dekker di kota Bandung
d.
Perguruan Rakyat, di Jakarta dan Bandung
2.
Sesuai dengan tuntunan agama
a.
Sekolah-sekolah serikat islam
b.
Sekolah-sekolah muhamadiyah
c.
Sumatera tawalib di Padang panjang
d.
Sekolah-sekolah nadhratul ulama
e.
Sekolah persatuan umat islam
f.
Sekolah al jami’atul wasliyah
g.
Sekolah al-irsyad
h.
Sekolah nasional normal islam
i.
dan masih banyak lagi sekolah lain
Organisasi yang berdasarkan sosial
keagamaan yang banyak melakukan aktivitas
pendidikan islam yaitu:
a. Al-jami’at
Al-khairiyah
Organisasi yang lebih dikenaal dengan nama Jami’at
khair ini didrikan di Jakarta tanggal 17 Juli 1905. Anggotanya ialah orang-orang
Arab dan tidak menutup kemungkinan untuk setiap muslim menjadi anggota tanpa
diskriminasi asal usul. Umumnya anggota dan pemimpinya terdiri dari orang yang
berada. Dua bidang yang sangat diperhatikan adalah
1. pendirian
dan pembinaan satu sekolah tingkat
dasar
2. pengiriman anak-anak muda ke Turki
Sekolah dasar Jami’at khair bukan hanya mempelajari
pengetahuan agama saja tetapi juga mempelajari pengetahuan umum.
Untuk memenuhi tenaga guru yang berkualitas Jami’at
khair mendatangkan guru dari daerah lain bahkan luar negri. Pada bulan Oktober
1911 tiga orang guru dari negeri Arab bergabung ke Jami’ay khair. Mereka adalah
Syeikh Ahmad Surkati dari Sudan dan Syekh Muhamad Taib dari Maroko dan Syekh
Muhamad Abdul Hamid dari Mekah
Menyusul kemudian pada Oktober 1913 empat orang guru
sahabat-sahabat Surkati dan salah seorang diantaranya adalah saudara kandungnya
sendiri yaitu Muhamad Abdul Fadal Ansari, Muhamad Noor, Hasan Hamid Al-antasari
dan seorang lagi yang kemudian diperuntukan bagi Jami’ay khair yang didirikan
dikota Surabaya, yaitu Ahmad Al-awif.
Disamping membawa pembaharuan dalam sistem pengajaran
yang pertama memasukan pengetahuan umum dan bangsa asing kedalam daftar
pengajarannya dan mereka juga memperjuangkan persamaan hak sesama muslim dan
pemikiran kembal kepada Al-Qur’An dan hadis. Hal ini yang menyebabkan mereka
terasing dari kalangan Sayid dari Jami’at khair.
Suatu hal penting yang dicatat adalah kenyataan penting
bahwa Jami’at khair yang pertama memulai organisasinya dengan bentuk modern
dalam masyarakat islam.
b. Al-islah Wal irsyad
Syeikh Ahmad Surkati yang sampai di Jakarta dalam
bulan Febuari 1992, seorang alim ulama yang terkenal dalam agama islam, beberapa
lama kemudian meninggalkan Jami’at khair dan mendirikan gerakan Agama sendiri bernama
Al-islah wal irsyad, dengan haluan mengadakan pembaharuan dalam islam.
Pada tahun 1994 berdirilah perkumpulan Al-islah wal
irsyad, kemudian terkenal dengan nama Al-irsyad yang terdiri dari golongan Arab
bukan golongan Alwi. Tahun 1915 berdirilah sekolah Al irsyad yang pertama di Jakarta.
Pendiri-pendiri Al-irsyad itu kebanyakan pedagang, tetapi
guru sebagai tempat meminta fatwabialah Syekh Ahmad Surkati.
Dari tahun 1906 ia mulai mengajar dinegeri suci
tersebut dan pada waktu itu ia mulai mengenal tulisan-tulisan abduh. Al-irsyad
itu sendiri menjuruskan perhatian pada bidang pendidikan terutama pada
masyarakat Arab. Dan sekolah Al-irsyad di Jakarta
lebih banyak jenisnya terdapat sekolah dasar, sekolah guru bagian terkhusus
dimana pelajar dapat mengadakan spesialisasi dalam bidang agama pendidikan dan
juga bahasa.
Murid al-irsyad pada haluan pertama didirikan dari
anak-anak kalangan Arab dan anak-anak Indonesia dari Sumatra dan juga Kalimantan.
Organisasinya menggunakan tabligh dan pertemuan-pertemuan sebagai cara untuk
menyebarkan pahamnya. Dan masalah agama yang berasal dari gerakan al-irsyad
sangat menggemparkan islam, karena bertentangan dengan keyakinan yang ada pada
waktu itu. Terutama majalah Az-Zakhirah yang keluar sejak bulan Muharam 1342H
dan terbit setiap bulan di Jakarta yang mengandung bahan peledak. Majalah yang
dipimpin oleh Syekh Ahmad itu berisi kupasan pertanyaan-pertanyaan dari segala
penjuru mengenai usul dan furu agama yang berisi pembongkaran hadis-hadis palsu
dha’if yang dipergunakan dalam mempertahankan beberapa hukum ibadat. Dan
muamalat yang menurut fikiran Syekh Ahmad Surkati bertentangan dengan Qur’an
dan sunah Nabi Muhammad
c. Persyerikatan ulama
Persyerikatan ulama merupakan perwujudan dari gerakan
pembaharuan didaerah Majalengka, jawa barat yang dimulai pada tahun 1911 atas
inisiatif Kyai Haji Abdul Halim, lahir pada tahun 1887 di Ciberelang Majalengka.
Kyai Haji memperoleh pelajaran agama pada masa
kanak-kanak lalu pada usia 22 tahun ia mulai belajar di berbagai pesantren dan
kemudian pergi ke Mekkah untuk menunaikan ibadah haji. Selama tiga tahun ia
berada di Mekah ia mengenal tulisan-tulisan abduh dan jamal al-din afgani dan
ia meninggal pada tahun1962 dan tetap berpegang pada mahzab safi’i.
Enam bulan berada dimekah KHA Halim mendirikan sebuah
organisasi yang diberi nama Qulub yang bergerak dibidang ekonomi dan
pendidikan, anggotanya 60 orang umunya
terdiri dari pedagang dan petani. Organisasi ini juga bermaksud membantu
anggota-anggotanya yang bergerak dibidang perdagangan dan persaingan dengan
pedagang-pedagang Cina. Dalam bidang pendidikan KHA Halim mengadakan pelajaran
agama seminggu sekali.
Hayatul Qulub tidak berlangsung lama. Persaingan
dengan pedagang Cina yang kadang-kadang menyebabkan perkelahian dan dianggap
pemerintah sebagai kerusuhan. Tahun 1915 organisasi tersebut
dilarang, tapi kegiatannya terus lanjut walau tidak diberi nama resmi,
sedangkan kegiatan pendidikan dilanjutkan oleh organisasi baru yang disebut
dengan Majlisul Ilmi.
Pada tahun 1916M dirasakan oleh kalangan masyarakat,
terutama para tokohnya untuk mendirikan suatu lembaga pendidikan yang besifat
modern. Sekolah dengan jami’yat i’anat al muata’alimin didirikan dengan
mendapat sambutan yang baik dari guru. Organisasi tersebut yang kemudian
diganti dengan persyerikatan ulama yang diakui secara sah oleh hukum pemerintah
pada tahun 1917 dengan bantuan H.O.S Cokroaminoto pemimpin serikat islam yang
disebut juga persyerikatan umat islam yang pada tahun1 952 difuksikan dengan
organisasi islam lainya al ijtihadiyatul islamiyah menjadi persatuan umat islam
pada tahun 1924 persyerikatan ulama secara resmi
meluaskan daerah operasinya keseleruruh Jawa dan Madura, dan pada tahun 1937
keseluruh Indonesia. Persyerikatan ulama ini tetap merupakan organisasi dari Majelengka. Organisasi ini juga membuka
sebuah rumah anak yatim yang diselenggarakan oleh Fatimiyah bagian wanita dari
organisasi tersebut, yang diambil dari anak nabi Muhammad SAW yang didirikan
pada tahun 1930.
Pada tahun 1932 dalam suatu kongres persyerikatan
ulama di Majalengka KHA Halim mengusulkan agar sebuah lembaga yang didirikan
bisa melengkapi pelajar-pelajarnya bukan saja dengan berbagai cabang ilmu
pengetahuan agama dan ilmu umum.
Pendiri persyerikatn ulama ini juga mengusulkan agar
latihan tersebut perlu juga menitikberatkan pada pembentukan watak dan kongres
menerima usul KHA Halim. Suatu keluarga kaya dari Ciomas memberikan setumpuk
tanahnya di Pasir ayu 10m dari Majalengka.
Lembaga ini dinamakan santri asrama yang dibagi 3
menjadi bagian yaitu:
1. Tingkat permulaan
2. Dasar
3. Lanjutan
persyerikatan ulama sejak mulai berdiri,
menyelenggarakan juga tabligh dan mulai sekitar tahun 1930 menerbitkan majalah
dan brosur sebagai media penyebar cita-citanya.
d. Muhammadiyah
Muhammadiyah adalah organisasi islam yang bergerak
dibidang pendidikan, dakwah dan kemasyrakatan. Muhamadiyah didirikan
dijogjakarta pada tanggal 10 November 1912 bertepatan dengan 8 Zulhijah 1330H oleh K.H. Ahmad Dahlan.
Tujuan didirikan organisasi muhamadiyah ini adalah
untuk membebaskan umat islam dari kebekuan dalam segala bidang kehidupannya,
dan praktek-praktek agama yang menyimpang dari kemurnian ajaran islam.
Sebagai organisasi dakwah dan pendidikan,
muhamadiyah mendirikan lembaga pendidikan
dari tingkat dasar sampai keperguruan tinggi. pada tahun 1015 K.H. Ahmad Dahlan
mulai mendirikan sekolah dasarnya yang pertama. Pada sekolah ini diberikan
pengetahuan umum dan agama. Kemudian diikuti dengan berdirinya sekolah-sekolah
muhamadiyah diplosok Indonesia.
Pada tahun 1925 organisasi ini telah mempunyai delapan
Hollands Inlandse School. Sebuah sekolahan guru di Jogjakarta, 32 sekolah dasar
lima tahun, sebuah schakel school, dan 14 buah madrasah, yang seluruhnya 119
orang guru dan 4000 murid. Pada tahun 1992 organisasi ini telah mempublikasikan
penerbitan sejumlah 700.000 buah buku dan brosur. Kemuduan pada tahun 1938
telah memiliiki 38 perpustakaan umum dan 1774 sekolah.
e. Persatuan Islam
Persatuan islam didirikan secara resmi pada tanggal 12
september 1923 di Bandung, oleh sekelompok orang islam yang berminat dalam
studi dan aktifitas keagamaan yang dipimpin oleh Zamzam dan Muhamadiyah Yunus.
Persatuan islam menyebarkan pemikirannya dan
cita-citanya denngan mengadakan pertemuan umum, tabligh,khotbah, kelompok studi dan mendirikan sekolah, menyabarkan famlet, majalah
dan kitab.
Pada tahun 1927, persatuan islam mempunyai kelompok
diskusi yang diikuti oleh anak muda yan menjalani masa
studinya. Kelompok diskusi ini dipimpin oleh Hasan. Dibidang pendidikan,
persatuan islam mendirikan sebuah madrasah yang pada awalnya untuk anak-anak
dari anggota persatuan islam, tetapi kemudian madrasah ini pun dibuka untuk
anak-anak lainnya. Sebuah kegiatan lain yang penting adalah lembaga pendidikan
islam yang ditangani oleh M.natsir, lembaga ini berhasil mendirikan Taman Kanak-kanak, HIS, dan sekolah guru.
f. Nahdlatul ulama
Diantaranya organisasi islam lain yang mementingkan
masalah penddikan dan pengajaran adalahnahdlatul ulama. Nahdlatul ulama
didirikan pada tahhun1929 di surabaya sebagai perluasan dari
komite hijaz yang dibangu untuk dua maksud yaitu:
1. Untuk mengimbangi komite
khilafat yang secara berangsur-angsur jatuh ketangan golongan pembharuan
2. Untuk berseru kepada ibnu sa’ud.
Tahun 1927 baru tujuan organisasi dirmuskan.
Organisasi ini bertujuan memperkuat iakatan salah satu dari empat mazab serta
untuk melakukan kegiatan yang bermanfaat untuk anggotanya. Kegiatan ini
meliputi usaha antar para aulama yang masih berpegang teguh pada mazab.
Dengan demikian tampak bahwa NU bermaksuf
mempertahankan praktek keagamaan yang sudah menstradisi. NU memberikan
perhatian yang besar pada pendidikan, khusnya pendidikan tradisional. NU mendirikan madrasah dengan model barat, sampai
akhir tahun1956 komisi perguruan NU mengeluarkan reglement
tentang susunan madrasah-madrasah NU yang terdiri dari:
1. Madrasah awaliyah
2. madrasah ibtidaiyah
3. madrasah tsanawiyah
4. madrasah mu’alimin wusta
5. madrasah mu’alimin ulya.
NU mendapat kesulitan untuk memprakarasai pembharuan
pendidikan dilingkungan pesantren pedesaan. Usaha tersebut pernah dirintis oleh
KH Muhamad ILYas. Mohhamad ilyas juga memperkenalkan sistem pengajaran bahasa
belanda di HIS pada pesantren. Pembharuan pendidikana dipesantren ini mendapat
reaksi hebat dari orang tua wali. Mereka memindahkan anak-anakny kepesantren
lain karena Tebuireng sudah terlalu modern
[1] Dr.
Badri Yatim, M.A., Sejarah Peradaban
Islam, hlm.299.
[2] Lebih
lanjut mengenai Syaikh Nawawi Al-Bantani dapat dibaca dalam Samsul Munir Amin, Sayid Ulama Hijaz, Biografi Syaikh Nawawi
Al-Bantani, Yogyakarta: Pustaka Pesantren, 2008
[3] Uka
Tjandrasasmita (Ed), Sejarah Nasional
Indonesia III, Jakarta: Balai Pustaka, 1984, hlm.193.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar